Matahari telah surut kebarat,
cahaya yang merah keemasan telah tertoreh dikaki langit
seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada siang. Sunyi sore hari mulai
menyergap, hanya burung bangao yang terbang lemah dan berhinggapan direrumpunan
pohon bambu menghiasi sunyi dengan kepakan sayapnya yang gemulai.
Dia sang jelita, bernama Dian. termenungan dengan mata yang tak berkedip
diatas batu besar dipinggir sungai, menatap arus air sungai yang begitu tenang,
melantunkan syair-syair kesunyian.
Sore nan kelabu, Angin bertiup lembu menyibak daun bambu, membuatnya
bergoyang seirama angin membawa kabar
yang entah bermakna apa.
sungai dalam syahdu arusnya, seakan
memadu kasih dengan daun bambu, mencipta syair-syair dalam irama yang lain.
Hanya kepada syair-syair dari alauna itu, Dian menyandarkan segala lukanya,
segala luka yang telah lama terpendam, menghilangkan keriangan hatinya,
semangatnya, sebab masa lalu yang kejam telah menoreh kisah yang tak dapat diterimahnya.
Dian, seorang gadis remaja desa berusia 18 tahun,
terkenal dengan paras wajahnya yang cantik jelita, yang akan membuat setiap pemuda terpengarah
dengan pesonanya. Namun hanya kepada kepada satu nama ia menyandarkan harapan
cintanya, cinta yang ia maknai sebagai satu titik kebahagiaan yang akan
membawanya dalm irama kasih yang tak terhingga,
gadis yang masih lugu dan polos dengan usianya yang masih sangat muda
namun secepat itu merasakan sebuah perasaan cinta kasih kepada seseorang
pemuda yang telah menjadi sahabatnya
sejak perjumpaannya dimasa ia masih bersekolah disalah satu sekolah lanjutan
atas didesanya, pemudah itu bernama Rian, Ia
sebenarnya terlahir dikota namun karena kesibukan
orang tuanya ia kemudian dititipkan kepada nenknya yg tinggal didesa
terpencil dan kmudian disekolahkn disana.
Dan disanaklah awal perjumpaan itu
sebuah perjumpaan yang telah mengubah cerita hidup Dian menjadi penuh dengan
gairah. Diwaktu yang berbeda, peraduan lain untuk mengenang sebuah kisah yang
terlanjur terderah dalam catatan kenangan Dian, yang entah harus dimaknai apa
olehnya. kadang lamunan itu hanya dapat tergambar jelas melalui ingatannya,
ditempat yang tak asing selain dipinggir sungai adalah berada didekat
jendelanya. Sebab disana ia dapat leluasa melihat dan menggambar Masa lalunya yang entah itu masa lalu yang
bahagia atau derita yang penuh
luka. jingga dikaki langit dengan hamparan pohon-pohon pencakar langit menghias berjejer
diantara hamparan sawah dengan padinya yang mulai menguning, sedang
bayang-bayang gelap malam menghampiri
seakan hendak menghilangkan warna-warna indah saat senja menjanjikan
keabadiannya. Jelas tergambar bagaimana malam melukis gelap menghapus cahaya
siang. Kisah yang tak berbeda yang dihapi Dian, dalam status percintaannya yang
terlalu cepat berakhir tanpa penjelasan.
Rian, nama seorang kekasih yang
telah hinggap sejenak dalam hidupnya, meninggalkan Dian sendiri dengan
cintanya, Sejak kejadian menimpa kekasihnya. Dian, hanya punya 2 tempat yang
dia jadikan sebbagian temanya dalam hidupnya sebagai pengganti kekasihnya Rian,
yakni dipinggir sungai dan berada didekat jendela kamarnya.
“Dian......... Dian..........!!!!!!!!!!”
Suara yang terdengar lembut memanggilnya dibalik pintu. Dian bangkit lalu
membuka pintu kamarnya.,
“seharian kamu belum makan, Ayo makan dulu, saya tunggu diruang makan yah”.
“iya kak” jawab Dian dengan suara yang lembut pula.
Rauni adalah kakak Dian, ia adalah seorang guru sekolah Dasar didesanya
umurnya 8 tahun diatas Dian, mereka hanya tinggal berdua saja dirumah mereka
yang sederhana, sejak sebuah peristiwa kebakaran Rumah yang terjadi 5 Tahun
yang lalu telah merenggut nyawa kedua orang tua mereka.
Bersambung..................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar