EKA MARLINA
Matahari telah surut kebarat,
cahaya yang merah keemasan telah tertoreh dikaki langit seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada siang.
Sunyi sore hari mulai menyergap,
hanya burung bangao yang terbang lemah dan berhinggapan direrumpunan pohon bambu menghiasi sunyi dengan kepakan sayapnya yang gemulai.
Dia sang jelita, bernama Dian. termenungan dengan mata yang tak berkedip diatas batu besar dipinggir sungai, menatap arus air sungai yang begitu tenang, melantunkan syair-syair kesunyian.
Sore nan kelabu, Angin bertiup lembu menyibak daun bambu, membuatnya bergoyang seirama angin membawa kabar yang entah bermakna apa.
Sungai dalam syahdu arusnya, seakan memadu kasih dengan daun bambu, mencipta syair-syair dalam irama yang lain.
Hanya kepada syair-syair dari alauna itu, Dian menyandarkan segala lukanya, segala luka yang telah lama terpendam, menghilangkan keriangan hatinya, semangatnya, sebab masa lalu yang kejam telah menoreh kisah yang tak dapat diterimahnya.
Dian, seorang gadis remaja desa berusia 18 tahun, terkenal dengan paras wajahnya yang cantik jelita, yang akan membuat setiap pemuda terpengarah dengan pesonanya. Namun hanya kepada kepada satu nama ia menyandarkan harapan cintanya, cinta yang ia maknai sebagai satu titik kebahagiaan yang akan membawanya dalm irama kasih yang tak terhingga, gadis yang masih lugu dan polos dengan usianya yang masih sangat muda namun secepat itu merasakan sebuah perasaan cinta kasih kepada seseorang pemuda yang telah menjadi sahabatnya sejak perjumpaannya dimasa ia masih bersekolah disalah satu sekolah lanjutan atas didesanya, pemudah itu bernama Rian, Ia sebenarnya terlahir dikota namun karena kesibukan orang tuanya ia kemudian dititipkan kepada neneknya yang tinggal didesa terpencil dan kemudian disekolahkan disana. Dan disanaklah awal perjumpaan itu sebuah perjumpaan yang telah mengubah cerita hidup Dian menjadi penuh dengan gairah.
Diwaktu yang berbeda, peraduan lain untuk mengenang sebuah kisah yang terlanjur terderah dalam catatan kenangan Dian, yang entah harus dimaknai apa olehnya. kadang lamunan itu hanya dapat tergambar jelas melalui ingatannya, ditempat yang tak asing selain dipinggir sungai adalah berada didekat jendelanya. Sebab disana ia dapat leluasa melihat dan menggambar Masa lalunya yang entah itu masa lalu yang bahagia atau derita yang penuh luka. jingga dikaki langit dengan hamparan pohon-pohon pencakar langit menghias berjejer diantara hamparan sawah dengan padinya yang mulai menguning, sedang bayang-bayang gelap malam menghampiri seakan hendak menghilangkan warna-warna indah saat senja menjanjikan keabadiannya. Jelas tergambar bagaimana malam melukis gelap menghapus cahaya siang. Kisah yang tak berbeda yang dihapi Dian, dalam status percintaannya yang terlalu cepat berakhir tanpa penjelasan.
Rian, nama seorang kekasih yang telah hinggap sejenak dalam hidupnya, meninggalkan Dian sendiri dengan cintanya, Sejak kejadian menimpa kekasihnya. Dian, hanya punya 2 tempat yang dia jadikan sebbagian temanya dalam hidupnya sebagai pengganti kekasihnya Rian, yakni dipinggir sungai dan berada didekat jendela kamarnya.
“Dian......... Dian..........!!!!!!!!!!”
Suara yang lembut memanggilnya dibalik pintu. Dian bangkit lalu membuka pintu kamarnya.,
“seharian kamu belum makan, Ayo makan dulu, saya tunggu diruang makan yah”.
“iya kak” jawab dian dengan suara yang lembut pula.
Rauni adalah kakak Dian, ia adalah seorang guru sekolah Dasar didesanya umurnya 8 tahun diatas Dian, mereka hanya tinggal berdua saja dirumah mereka yang sederhana, sejak sebuah peristiwa kebakaran Rumah yang terjadi 5 Tahun yang lalu telah merenggut nyawa kedua orang tua mereka. Tidak lama berselang Dian pun menyusul kakaknya menuju meja makan untuk menikmati hidangan makan siang.
Rauni kakak Dian mempunyai tanggung jawab yang sangat besar atas adiknya dian, ia sangat menyayangi adikknya sebab hanya Dian satu-satunya semangat yang dimilikinya sejak kedua orang tua mereka telah lebih dulu meninggalkan mereka berdua, dan Dian sebagai seorang adik pun memahami apa yang dirasakan oleh kakaknya.
Setelah makan siang itu, Dian dan kakaknya keluar dari rumahnya menuju halaman rumahnya untuk sekedar berjalan-jalan menikmati suasana, berjalan pelan disekitar rumah mereka yang terdapat sebuah sungai. Sepintas Dian menatap kedalam rumahnya yang telah sunyi tanpa siapa-siapa. Akhirnya ketika waktu telah beranjak sore kedua gadis itu pun kembali rumah mereka, namun Dian tidak langsung masuk kadalam rumahnya, diteras ia menarik jerat burung yang belum usai dirajut tergantung disudut dinding bambu samping rumahnya.
Lalu Dianpun berkata “ ini adalah rutinitas yang penuh gairah bagiku.”
Hingga malam menjelang kembali, gairahkupun serasa memudar berganti menjadi sunyi sama seperti malam-malam yangtelah berlalu, malam ini aku seolah bermain dengan kesedihan ini, aku bermain dengan bulu-bulu kecil yang menjadi sebuah kasih sayang sebagai pengganti kasih sayangnya. Yah, hanya boneka ini sebagai pemberian terakhir darinya maka sangat wajar ketika segala rindu terlampiaskan kepadanya.
Sepintas lalu. Rauni, kakak Dian menatapnya lalu tersenyum lalu kemudian kakak Dian menghampirinya dan langsung memeluk adiknya. Dalam hati, Dian kemudian berbisik,
“aku memahami ini semua untuk rian, bukan untuk siapa-siapa, sekarang aku kembali membangkitkan rasa rindu ini untuknya. Aku sungguh-sungguh sangat merindukannya andai kata, suatu hari aku dapat bertemu Rian dalam sosok yang lain , mungkin kesedihan ini akan sedikit terobati”. Dian melepaskan pelukan Kakaknya dan berlalu begitu saja masuk kedalam kamarnya tanpa sepata kata lagi yang keluar dari mulut manisnya.
Matahari sudah sempurna tenggelam diufuk barat, cahaya kemerahan mulai menyelimuti awan yang bergerak pelan tertiup angin, lampu jalan yang mulai menghias diri menyambut malam. adzan magrib mulai terdengar mengalun menyusup kedalam hati orang-orang yang mendambakan kasih sayang Tuhan, menuju kebahagiaan yang dijanjikan sang pencipta. Anak-anak yang biasa meramaikan tempat ini begitu mendengar adzan., segerah berhenti bermain meskipun lagi seru-serunya.
malam semakin disekap sunyi dalam samar lampu yang redup diatas lantai yang rapuh, kedua bersaudara ini tengah menikmati santap malam, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
“Assalaum alaikum” suara dari luar......!!!
“wa’alikum salam” jawab Dian sambil berjalan membuka pintu, Dian mulai menampakkan senyumnya yang telah lama hilang. Suara jangkrik yang mulai memecah keheningan malam, suasana yang begitu berbeda dari suasana sebelumnya, tenang dan membahagiakan, Dian mulai membangkitkan gairah hidupnya, setelah perjumpaannya dengan orang dibalik pintu itu, Dian tak pernah lagi menampakkan kesedihannya. Malah Dian merasa telah menemukan sebuah kebahagiaan yang telah lama dia tnggu, Dian menemukan sebuah cahaya dalam hidupnya. Entah siapakah orang itu....?
Bersambung..................
