Selasa, 18 November 2014

#3




EKA MARLINA





Setelah indahnya malam berhias kerlap bintang berlalu, kantuk mengusik kesenangan jiwa dalam bisikan merdu penghuni gelap, kesunyian dalam tepian waktu, irama cerita nanlalu tak kunjung bermuara. Kini sesaat dan secara mengejutkan gelap menyingsing, langit menghias diri. Terbit  fajar dengan selimut kehangatan serta keindahan cahayanya terlukis indah dicakrawala. Ohhh.... Rinduku, izinkanku untuk bercerita seperti waktu bercerita tentang dirinya.
                  Dian, Setelah malam itu, dian lebih membuka diri kepada seseorang meskipun bukan sebagai kekasihnya. semangat yang telah lama hilang itu kini telah kembali menampakkan cahayanya. Begitupun dengan kakaknya. Rauni tampak terlihat bahagia melihat adiknya yang semula senyum adalah hal  yang asing kini telah setiap  saat dapat ia jumpai kembali.
  Kedatangan Sahabat kecil Dian yang tanpa tanda menciptakan sebuah semangat baru untuknya. Harapan kini iya sandarkan pada cinta dan kasih yang muncul secara tiba-tiba itu. Setelah Satu tahun berlalu. bisu dalam kata, penantian tanpa nama, menunggu waktu tak bertepi dan malam hanya menyisahkan bayang-bayang, cerita  terindah dalam hidupnya kini hanya  berbekas nama, Rian.
Namun Kini sebuah episode baru dalam hidup Dian akan dimulai kembali, sesaat setelah malam itu sahabat yang telah lama tak pernah dijumpainya secara tiba-tiba muncul membawa harapan baru untuknya.
  Fauzi dengan karakter yang tidak jauh berbeda dengan Rian. menjadi salah satu alasan Dian untuk berani membuka kembali lembaran baru dengan orang yang pernah dekat dengannya sewaktu masih kecil dulu.
  Matahari sudah sempurna tenggelam di ufuk barat. Cahaya kemerahan mulai menyelimuti awan yang berarak pelan ditiup angin. Lampu jalan mulai menghias diri menyambut datangnya malam. Adzan magrib terdengar bersahut-sahutan di seantara desa. Lantunan kalimat agung mengalun menyusup kedalam hati orang-orang yang mendambakan kasih sayang Tuhan menuju kebahagian yang di janjikannya. Kebahagiaan yang berpangkal dari pengabdian yang tulus pada sang pencipta.
  Hari-hari yang dilalui Dian bersama Fauzi Nampak terlihat bahagia. Rauni kakak Dian terlihat ikut bahagia atas kebahagiaan adiknya.  Sesaat sebelum waktu berlalu, pada suatu sore ditepian sungai bisikan hati yang tak sengaja terucap, Dian berkata “ sekarang, dirumah yang sederhana hanya tinggal aku bersama kakak Rauni. Tapi meskipun sederhana, namun yang namanya kebahagiaan ternyata masih bisa aku rasakan layaknya anak perempuan seusiaku. Ayah dan ibu sudah terlalu lama pergi meninggalkanku , namun jiwanya masih tetap saja aku rasakan dan itu lebih menguatkanku untuk tetap bangkit kembali setelah kejadian itu. Sekarang aku optimis, aku bersyukur masih memiliki seorang kakak yang yang sangat aku cintai begitupun sebaliknya. Dia yang mengajarkan aku tentang arti dari sebuah penantian, kesetiaan, dan pengorbanan. Hingga kini aku kembali bersama fauzi.
  Berbeda dengan Rauni akhir-akhir ini Rauni tampak sedang menghadapi masalah namun dia tak pernah bercerita sedikitpun pada adiknya.namun karena sikap dan perilaku Rauni yang semakin hari menjadi tidak biasa, akhirnya  Dian pun curiga dan mencari tau apa yang membuat kakaknya bertingkah tidak seperti biasanya.  mengetahui apa yang dialami oleh kakaknya, sedikit kekecewaan yang Dian tampakkan didepan Rauni kakanya, sebab kakanya telah sengaja menutup-nutupi masalah yang dihadapinya. Namun karena adanya saran dari Fausi, agar Dian segera mencari tau masalah yang dihadapi Raun kakaknya. Akhirnya Dian mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


Rauni saat itu tertidur diruang makan. “ kak…. Bangun kak Udah sore nih !!. Rauni kaget dan terbangun dengan sentuhan tangan dari adiknya. Perlahan Rauni membuka matanya sambil menangis. “lhoo… kakak menagis yah? Tanya dian. “tidak, mungkin tidur kakak lelap sekali hingga kamu pikir kakak nangis”. Rauni menjawab. Dian kembali bertanya “kak…. Sebenarnya apa yang terjadi , kenapa akhir-akhir ini kakak terlihat lain dari yang biasanya”? “lho… emangnya kakak kelihatan beda kenapa, kakak tidak apa-apa Dian, perasaan kamu aja mungkin. “ oh ya kakak mau masuk aja the… pertanyaan kamu udah ngaur. Jawab Rauni. Rauni sudah merasakan ada yang lain dari sifat Dian Dan harus menghindarinya. Rauni berdiri dari kursi akan tetapi Dian menahan dan memegang tangannya. Rauni sudah tidak biasa lari lagi dari pertanyaan itu dan mau bagaimanapun keadaanya Dian memang harus tahu apa yang terjadi pada kakaknya. Air mata Rauni sudah meleleh dan langsung membalikkan badan sambil memeluk adiknya. Sebenarnya Rauni sangat berat hati untuk mengatakan semuanya pada Dian. Namun karena Dian memaksa, akhirnya Rauni pun menceritakan semua kepada adiknya.
  rintik kecil air hujan dalam remang cahaya mentari sesaat sebelum terbenam, menghias nada-nada sendu dalam cerita hidup antara Dian dan Rauni pada saat itu.
  Dalam benak Dian, akankah dia akan kehilangan orang yang disayanginya lalu merelakannya bersama orang lain. Namun disatu sisi Dian pun harus melihat kakaknya menikah dan berbahagia bersama kekasihnya, bang ilham.
lamaran Ilham kepada Rauni sebenarnya bukanlah hal yang  mengejutkan bagi Rauni sebab ia telah lama menegetahui hal tersebut, namun yang Rauni takutkan adalah Dian tidak mampu menerima orang lain dalam kehidupan kakanya dan kehidupannya. Akhirnya Raunipun larut dalam kebingungan untuk mengambil keputusan, apa lagi semenjak perbincangan dengan adiknya disore itu. Dian tidak memberikan respon yang baik kepadanya. Beberapa hari berlalu ,akhirnya Rauni sakit akibat dari beratnya masalah  yang membelenggu pikirannya.
Dian seringkali merasakan sebuah penyesalan,  kenapa dia tidak memberidukungan pada Rauni untuk menikah. Tapi, apalah gunanya sebuah penyesalan.
Malam semakin gelap, cahaya lampu kian samar menerangi kamar
Rauni. Dian yang sementara menemani kakaknya yang terbaring sakit sedikit terkejut dari suara ketukan pintu dari luar. “Assalamu alaikum, Dian buka pintunya” !! Dian dari dalam kamar beranjak keluar membuka pintu. “ Wa Alaikum salam, Fauzi.” Ayo,,, silahkan masuk! Iya terimah kasih. setelah Fauzi selesai melihat keadaan Rauni, iapun memanggil Dian untuk meninggalkan kamar dan menuju ruang tamu. Diruang tamu Fauzi meminta pada dian untuk memberi kabar bang Ilham tentang keadaan Rauni.
Dian mengangguk-angguk dan
berpikir mungkin juga ada baiknya seperti itu. Dengan mata yang kian sayu, mereka saling berpandangan. Lalu masing-masing menganggukan kepala.
   akhirnya setelah perbincangan itu dan malampun semakin larut Fauzi pamit dan tidak bisa menemani Dian menjaga Rauni. Karena fauzi ada keperluan lain. Dan saat itu juga, dian mendekati telepon rumahnya dan segera menelpon bang ilham.
“Assalamu alaikum, iya halo? Suara dari balik telepon. Wa alaikum salam. Bang ilham ya? Saya Dian adiknya kak Rauni. “iya Dian, kenapa? Tumben malam-malam begini nelpon abang “iya bang, Dian lagi pengen cerita tentang kak Rauni, siapa tahu dengan bang ilham kak Rauni bias lebih baikan begitu bang. Suara dari balik telepon sudah sunyi. Dian kembali memanggil, hallo…. Bang ilham… hallo… hallo…. Lama tak terdengar suara bang Ilham akhirnya bang ilham menyahut,

“iya Dian, abang disini” lho… kok suara bang ilham agak lain sih?
“tidak
Dian, abang Cuma kaget aja tahu bahwa kak Rauni ternyata sedang sakit. Yah sudah dulu yah Dian… abang udah mau istirahat nih, abang usahakan besok datang.
“iya bang… Assalamu alaikum
                  Dian pun sedih karena tahu tentang apa yang dirasakan oleh bang ilham saat ini. Namun dian berusaha menahan itu semua, dian menuju kamar rauni dan tidur didekat rauni.
Udara pagi yang biasanya menjadi inspirasi dalam mengawali setiap langkah Dian, kini seakan  tak bermakna lagi. Meskipun begitu, Dian tetap tak pernah menampakkan raut wajah yang buram dihadapan kakak.
  Wajah sang mentari yang mulai tampak garang membuyarkan kedinginan menjadi kehangatan, dipagi ini sunyi senyap tanpa tegur sapa dari sang kakak yang terbaring sakit. Terasa asing, namun inilah kenyataan yang mesti harus dijalani. Sesaat kemudian.
  Terdengar dari luar suara mobil berhenti, Dian membuka jendela dan ternyata bang ilham sudah tiba dirumahnya. Saat itu juga Dian menghubungi fauzi bahwa bang ilham sudah ada dirumah bersama ibunya. Dian berjalan keluar sambil membuka pintu, nampaklah sebuah rumah kecil yang sederhana. namun dimata ibu bang ilham sebenarnya itu tidak menjadi permasalahan bagi dirinya untuk menerima Rauni sebagai calon menantunya. tapi, saat ini Rauni sedang dalam keadaan sakit. Bang ilham tampak pucat dan berjalan lebih cepat dari biasanya untuk menuju kamar Rauni. Sambil berjalan ibu bang ilham menyempatkan bertanya pada Dian tentang sebenarnya apa yang terjadi pada Rauni? Dian berhati-hati menjelaskannnya karena takut salah. Mereka bertiga akhirnya tiba dikamar.
  Selang beberapa menit  dikamar itu, cahaya matahari yang sejak tadi menampakkan kegagahannya. hembusan udara mulai rendah, memanggil angin kering menerjang masuk kekamar. Debu kembali beterbangan, suhu kian tinggi membuat mereka kembali membuat ramalan-ramalan tersendiri tentang keadaan Rauni. Akankah perjuangannya melawan sakit saat ini dapat bertahaan hingga malam mengahalaunya.

            Bersambung………...




Jumat, 04 April 2014

#2










EKA MARLINA 


Matahari telah surut kebarat,
cahaya yang merah keemasan telah tertoreh dikaki langit seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada siang.
Sunyi sore hari mulai menyergap,
hanya burung bangao yang terbang lemah dan berhinggapan direrumpunan pohon bambu menghiasi sunyi dengan kepakan sayapnya yang gemulai.
Dia sang jelita, bernama  Dian.  termenungan dengan mata yang tak berkedip diatas batu besar dipinggir sungai, menatap arus air sungai yang begitu tenang, melantunkan syair-syair kesunyian.
Sore nan kelabu, Angin bertiup lembu menyibak daun bambu, membuatnya bergoyang seirama angin membawa  kabar yang entah bermakna apa.
  Sungai dalam syahdu arusnya, seakan memadu kasih dengan daun bambu, mencipta syair-syair dalam irama yang lain.
  Hanya kepada syair-syair dari alauna itu, Dian menyandarkan segala lukanya, segala luka yang telah lama terpendam, menghilangkan keriangan hatinya, semangatnya, sebab masa lalu yang kejam telah menoreh  kisah yang tak dapat diterimahnya.
  Dian,  seorang gadis remaja desa berusia 18 tahun, terkenal dengan paras wajahnya yang cantik jelita,  yang akan membuat setiap pemuda terpengarah dengan pesonanya. Namun hanya kepada kepada satu nama ia menyandarkan harapan cintanya, cinta yang ia maknai sebagai satu titik kebahagiaan yang akan membawanya dalm irama kasih yang tak terhingga,  gadis yang masih lugu dan polos dengan usianya yang masih sangat muda namun secepat itu merasakan sebuah perasaan cinta kasih kepada seseorang pemuda  yang telah menjadi sahabatnya sejak perjumpaannya dimasa ia masih bersekolah disalah satu sekolah lanjutan atas didesanya, pemudah itu bernama Rian, Ia sebenarnya terlahir dikota namun karena kesibukan orang tuanya ia kemudian dititipkan kepada neneknya yang tinggal didesa terpencil dan kemudian disekolahkan disana. Dan disanaklah awal  perjumpaan itu sebuah perjumpaan yang telah mengubah cerita hidup Dian menjadi penuh dengan gairah.
  Diwaktu yang berbeda, peraduan lain untuk mengenang sebuah kisah yang terlanjur terderah dalam catatan kenangan Dian, yang entah harus dimaknai apa olehnya. kadang lamunan itu hanya dapat tergambar jelas melalui ingatannya, ditempat yang tak asing selain dipinggir sungai adalah berada didekat jendelanya. Sebab disana ia dapat leluasa melihat dan menggambar  Masa lalunya yang entah itu masa lalu yang bahagia atau derita  yang penuh luka.  jingga dikaki langit dengan hamparan  pohon-pohon pencakar langit menghias berjejer diantara hamparan sawah dengan padinya yang mulai menguning, sedang bayang-bayang gelap malam menghampiri  seakan hendak menghilangkan warna-warna indah saat senja menjanjikan keabadiannya. Jelas tergambar bagaimana malam melukis gelap menghapus cahaya siang. Kisah yang tak berbeda yang dihapi Dian, dalam status percintaannya yang terlalu cepat berakhir tanpa penjelasan.
  Rian, nama seorang kekasih  yang telah hinggap sejenak dalam hidupnya, meninggalkan Dian sendiri dengan cintanya, Sejak kejadian menimpa kekasihnya. Dian, hanya punya 2 tempat yang dia jadikan sebbagian temanya dalam hidupnya sebagai pengganti kekasihnya Rian, yakni dipinggir sungai dan berada didekat jendela kamarnya.

“Dian......... Dian..........!!!!!!!!!!”
Suara yang  lembut memanggilnya dibalik pintu. Dian bangkit lalu membuka pintu kamarnya.,
 “seharian kamu belum makan, Ayo makan dulu, saya tunggu diruang makan yah”.
  “iya kak” jawab dian dengan suara yang lembut pula.
Rauni adalah kakak Dian, ia adalah seorang guru sekolah Dasar didesanya umurnya 8 tahun diatas Dian, mereka hanya tinggal berdua saja dirumah mereka yang sederhana, sejak sebuah peristiwa kebakaran Rumah yang terjadi 5 Tahun yang lalu telah merenggut nyawa kedua orang tua mereka. Tidak lama berselang Dian pun menyusul kakaknya menuju meja makan untuk menikmati hidangan makan siang.
  Rauni kakak Dian mempunyai tanggung jawab yang sangat besar atas adiknya dian, ia sangat menyayangi adikknya sebab hanya Dian satu-satunya semangat yang dimilikinya sejak kedua orang tua mereka telah lebih dulu meninggalkan mereka berdua, dan  Dian sebagai seorang adik pun memahami apa yang dirasakan oleh kakaknya.
Setelah makan siang itu, Dian dan kakaknya keluar dari rumahnya menuju halaman rumahnya untuk sekedar berjalan-jalan menikmati  suasana, berjalan pelan disekitar rumah mereka  yang terdapat sebuah sungai. Sepintas Dian menatap kedalam rumahnya yang  telah sunyi tanpa siapa-siapa. Akhirnya ketika waktu telah beranjak sore kedua gadis itu pun kembali rumah mereka,  namun Dian tidak langsung masuk kadalam rumahnya, diteras ia menarik jerat burung  yang belum usai dirajut tergantung disudut dinding bambu samping rumahnya.
  Lalu Dianpun  berkata “ ini adalah rutinitas yang penuh gairah bagiku.”
Hingga malam menjelang kembali, gairahkupun serasa memudar berganti menjadi sunyi sama seperti malam-malam yangtelah berlalu, malam ini aku seolah bermain dengan kesedihan ini, aku bermain dengan bulu-bulu kecil yang menjadi sebuah kasih sayang sebagai pengganti kasih sayangnya. Yah, hanya boneka ini sebagai pemberian terakhir darinya maka sangat wajar ketika segala rindu terlampiaskan kepadanya.
Sepintas lalu. Rauni, kakak Dian  menatapnya lalu tersenyum lalu kemudian kakak Dian menghampirinya  dan langsung memeluk adiknya. Dalam hati, Dian kemudian berbisik,
 “aku memahami ini  semua untuk rian, bukan untuk siapa-siapa, sekarang aku kembali membangkitkan rasa rindu ini untuknya. Aku sungguh-sungguh sangat merindukannya andai kata,  suatu hari aku dapat bertemu Rian dalam sosok yang lain , mungkin kesedihan ini akan sedikit terobati”.  Dian melepaskan pelukan Kakaknya dan berlalu begitu saja masuk kedalam kamarnya tanpa sepata kata lagi yang keluar dari mulut manisnya.
  Matahari sudah sempurna tenggelam diufuk barat, cahaya kemerahan mulai menyelimuti awan yang bergerak pelan tertiup angin, lampu jalan yang mulai  menghias diri menyambut malam. adzan magrib mulai terdengar mengalun menyusup kedalam hati orang-orang yang mendambakan kasih sayang Tuhan, menuju kebahagiaan yang dijanjikan sang pencipta. Anak-anak yang biasa meramaikan tempat ini begitu mendengar adzan., segerah berhenti bermain meskipun lagi seru-serunya.
 malam semakin disekap sunyi dalam samar lampu yang redup diatas lantai yang rapuh, kedua bersaudara ini tengah menikmati santap malam, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
“Assalaum alaikum” suara dari luar......!!!
 “wa’alikum salam”  jawab Dian sambil berjalan membuka  pintu, Dian mulai menampakkan senyumnya yang telah lama hilang. Suara jangkrik yang mulai memecah keheningan malam, suasana yang begitu berbeda dari suasana sebelumnya, tenang dan membahagiakan, Dian mulai membangkitkan gairah hidupnya, setelah perjumpaannya dengan orang dibalik pintu itu,  Dian tak pernah lagi menampakkan kesedihannya. Malah Dian merasa telah menemukan sebuah kebahagiaan yang telah lama dia tnggu, Dian menemukan sebuah cahaya dalam hidupnya. Entah siapakah orang itu....?
Bersambung..................

 



Selasa, 04 Februari 2014

#1



        EKA MARLINA
                                             


Matahari telah surut kebarat,
cahaya yang merah keemasan telah tertoreh dikaki langit seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada siang. Sunyi sore hari mulai menyergap, hanya burung bangao yang terbang lemah dan berhinggapan direrumpunan pohon bambu menghiasi sunyi dengan kepakan sayapnya yang gemulai.

Dia sang jelita, bernama  Dian.  termenungan dengan mata yang tak berkedip diatas batu besar dipinggir sungai, menatap arus air sungai yang begitu tenang, melantunkan syair-syair kesunyian.

Sore nan kelabu, Angin bertiup lembu menyibak daun bambu, membuatnya bergoyang seirama angin membawa  kabar yang entah bermakna apa.
 sungai dalam syahdu arusnya, seakan memadu kasih dengan daun bambu, mencipta syair-syair dalam irama yang lain. Hanya kepada syair-syair dari alauna itu, Dian menyandarkan segala lukanya, segala luka yang telah lama terpendam, menghilangkan keriangan hatinya, semangatnya, sebab masa lalu yang kejam telah menoreh  kisah yang tak dapat diterimahnya.


Dian,  seorang gadis remaja desa berusia 18 tahun, terkenal dengan paras wajahnya yang cantik jelita,  yang akan membuat setiap pemuda terpengarah dengan pesonanya. Namun hanya kepada kepada satu nama ia menyandarkan harapan cintanya, cinta yang ia maknai sebagai satu titik kebahagiaan yang akan membawanya dalm irama kasih yang tak terhingga,  gadis yang masih lugu dan polos dengan usianya yang masih sangat muda namun secepat itu merasakan sebuah perasaan cinta kasih kepada seseorang pemuda  yang telah menjadi sahabatnya sejak perjumpaannya dimasa ia masih bersekolah disalah satu sekolah lanjutan atas didesanya, pemudah itu bernama Rian, Ia sebenarnya terlahir dikota namun karena kesibukan
orang tuanya ia kemudian dititipkan kepada nenknya yg tinggal didesa terpencil dan kmudian disekolahkn  disana. Dan disanaklah awal  perjumpaan itu sebuah perjumpaan yang telah mengubah cerita hidup Dian menjadi penuh dengan gairah. Diwaktu yang berbeda, peraduan lain untuk mengenang sebuah kisah yang terlanjur terderah dalam catatan kenangan Dian, yang entah harus dimaknai apa olehnya. kadang lamunan itu hanya dapat tergambar jelas melalui ingatannya, ditempat yang tak asing selain dipinggir sungai adalah berada didekat jendelanya. Sebab disana ia dapat leluasa melihat dan menggambar  Masa lalunya yang entah itu masa lalu yang bahagia atau derita  yang penuh luka.  jingga dikaki langit dengan hamparan  pohon-pohon pencakar langit menghias berjejer diantara hamparan sawah dengan padinya yang mulai menguning, sedang bayang-bayang gelap malam menghampiri  seakan hendak menghilangkan warna-warna indah saat senja menjanjikan keabadiannya. Jelas tergambar bagaimana malam melukis gelap menghapus cahaya siang. Kisah yang tak berbeda yang dihapi Dian, dalam status percintaannya yang terlalu cepat berakhir tanpa penjelasan.

Rian, nama seorang kekasih  yang telah hinggap sejenak dalam hidupnya, meninggalkan Dian sendiri dengan cintanya, Sejak kejadian menimpa kekasihnya. Dian, hanya punya 2 tempat yang dia jadikan sebbagian temanya dalam hidupnya sebagai pengganti kekasihnya Rian, yakni dipinggir sungai dan berada didekat jendela kamarnya.

“Dian......... Dian..........!!!!!!!!!!”
Suara yang terdengar lembut memanggilnya dibalik pintu. Dian bangkit lalu membuka pintu kamarnya.,
“seharian kamu belum makan, Ayo makan dulu, saya tunggu diruang makan yah”.
“iya kak” jawab Dian dengan suara yang lembut pula.
Rauni adalah kakak Dian, ia adalah seorang guru sekolah Dasar didesanya umurnya 8 tahun diatas Dian, mereka hanya tinggal berdua saja dirumah mereka yang sederhana, sejak sebuah peristiwa kebakaran Rumah yang terjadi 5 Tahun yang lalu telah merenggut nyawa kedua orang tua mereka. 




Bersambung..................