Selasa, 09 Juni 2015

#4




EKA MARLINA




Detik waktu telah membuyarkan gelap pada malam, seiring cahaya mentari menembus cakrawala pagi dan dunia kembali bermain dadu.
                  Sesaat kemudian, Rauni kembali membuka mata yang tampak sayu meskipun begitu cahaya seakan  terpancar dalam raut wajahnya yang cantik. Matanya menatap tajam seolah tersirat makna yang dalam kemudian dia berucap sendu.

Indahku memandang pesonamu,
Darimulah aku menemukan hidup yang bermakna,
Darimulah aku bertemu cinta yang sesungguhnya,
Kaulah takdir dari Tuhan untukku,
Penantianku telah kucukupkan sampai disini,
Selamat tinggal.”

  Matanya sedikit menerawang. Tangannya kanannya terggenggam erat pada kedua tangan Ilham dan tangan kirinya digenggam pula oleh adiknya, Dian. Keringatnya mengalir semakin deras.  Urat lehernya sedikit menegang. Lalu iapun kembali berucap sendu.
“bang, aku sudah tak tahan lagi.”
“Kau harus bertahan untuk abang, untuk Dian dan untuk semua orang” pinta bang ilham.
Dian saat itu sudah menangis, perasaannya sudah mulai tidak enak.
“aku sudah tak kuat lagi” ucap rauni hampir tak terdengar. Mulutnya seperti ingin mengucapkan sesuatu.
Laa ila….ha illallah….muhammadur…rasuu…lullah”
  Genggamannya semakin erat, semakin erat lalu perlahan mulai melemah terlepas, matanya perlahan tertutup rapat, badannya sudah mulai dingin bahkan detak jantunggnya sudah tak ada lagi. Pecah gemuruh hujan diluar sana. Rauni sudah tiada. Semua menangis.

  Rauni telah menghembuskan nafas terakhirnya.  perih dan terasa sesak hatinya, Dian yang telah sekian lama bersama kakaknya, sekarang hanya melihatnya terbaring kaku. kakaknya yang selama ini dia anggap kuat itu, telah pergi untuk selamanya. sepi kembali berbaur dengan deru angin, yang mengikis segala debu, bumi kian kuning kepucatan Dian terus menatap kakaknya yang sudah tak bernyawa lagi,  sembari menatap keluar jendela dan terus menafsirkan berharap ada bingkisan mukjizat dari sang Ilahi  yang akan jatuh untuk kesembuhan Rauni. namun apa daya bahwa saat ini, Rauni memang sudah tak bersama mereka lagi.  saat itu sontak Dian  menangis histeris atas kepergian kakak yang selama ini telah bersamanya. "kak Rauni.....kak rauni bangun.... bangun kak (sambil mengoyang2kan tubuh Rauni yang sudah tak bernyawa lagi) "bu....bu... kak rauni tidak boleh pergi bu,,, Dian tidak mau


sendiri, Dian takut bu sendiri...."Dian seolah olah bertanya pada ibu Miranda" namun respon yang  diberikan hanyalah sebuah tangisan yang pecah saat itu juga."bang....bang Ilham jangan diam saja, tolong lakukan sesuatu bang untuk kak Rauni" Dian kembali berdiri sambil terlihat memukul tubuh bang Ilham namun tak punta tenaga sedikitpun. "Dian,,,, abang tdak bisa apa-apa lagi bahkan kita semua harus ikhlas menerima kepergian Rauni, Dian". namun Dian tetap saja menangis dan kembali jatuh lalu memeluk erat tubuh Rauni yang kini hanyalah tinggal sebuah jazad , namun bagi Dian itu tak menjadi masalah karena dia sangat mencintai kakakknya itu.. fauzi pun hanya bisa melihat keadaan saat itu dengan penuh kebingungan. fauzi bingung akan melakukan apa saat itu selain melihat Dian sangat terpukul berat.
"nak,, sesuatu itu pada akhirnya kembali pada asalnya, Rauni itu milik Tuhan, dia hanya titipan Tuhan kita nak, tolonglah nak.... sabar dan ikhlaskanlah kakakmu "!
ucapan yang terlontar dari mulut ibu Miranda sangatlah terasa bijaksana bagi mereka. bang Ilham pun terlihat sabar dan berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Rauni seorang yang telah dicintainya selama ini.
"nak Fauzi tolong bawa Dian keluar yah, tenangkan dia ! " ucap ibu Miranda.  "iya bu ". Jawab Fauzi Dian dibawa keluar dari kamar dan Fauzi berusaha menenangkan Dian. Fauzi tak mampu melihat orang yang kini dicintainya menangis. "yank ,(sebutan nama Dian dari Fauzi) sudahlah !!! ikhlaskan atas kepergian kakakmu biarkan dia tenang dialam sana, kamu masih punya aku, bang ilham, juga ibu miranda kita semua kan slalu jaga kamu seperti aku menjaga hati ini untukmu" begitulah ucapan fauzi untuk membuat Dian tenang,meski demikian Dian tetap menangis namun sudah agak biasa. saat itu juga warga pada berdatangan untuk melayat sehingga jazad rauni telah siap untuk dimandikan dan dikafani.
jazad, yah.... apalagi yang lebih berarti dari pada jazad. toh tidak seorangpun yang akan lepas dari sebutan jazad , cepat atau lambat pasti semuanya kan menjadi jazad, terdengar suara si kodok seolah mencobaa meyakinkan orang-orang tersebut yang sedang menatap dalam jazad rauni. sikodok tetap tidak bergeming berlindung dibalik pelepah pisang yang dedaunnya juga sudah mulai mengering
  Dian dibawa kluar dari kamar dan fauzi berusaha menenangkan Dian. fauzi tak mampu melihat orang yang kini dicintainya mwnangis. "yan,(panggilan sayang fauzi untuk Dian),, sudahlah !!! ikhlaskan atas kepergian kakakmu biarkan dia tenang dialam sana, kamu masih punya aku, aku kan slalu jaga kamu seperti aku menjaga hati ini untukmu" begitulah ucapan fauzi untuk membuat Dian tenang, meski demikian Dian tetap menangis namun sudah agak biasa. saat itu juga warga berdatangan untuk melayat sehingga jazad rauni telah siap untuk dimandikan dan dikafani. jazad, yah.... apalagi yang lebih berarti dari pada jazad. toh tidak seorangpun yang akan lepas dari sebutan jazad, cepat atau lambat pasti semuanya kan menjadi jazad, terdengar suara si kodok seolah mencobaa meyakinkan orang-orang tersebut yang sedang menatap dalam jazad rauni.
             


Sore itu rauni kini telah menyatu dengan tanah, pecah gemuru dan rintik hujan telah melenyapkan jingga pada sudut katulistiwa dipenghujung waktu, awan gelap  dan kini sunyi hanya kembali melukis jiwa Dian yang semakin pilu.

              malam pun tiba hujan pun tak kunjung reda, Dian saat ini sangatlah terpukul berat untung saja bu miranda, bang ilham dan juga fauzi masih setia menemani Dian. Dian kembali mengingat memori yang pernah dia jalani bersama kakakknya itu, Dian kembali menangis karena mulai saat ini terbayang dia harus hidup mandiri tanpa kehadiran sang kakak disampingnya. dia bangkit dan berjalan mendekat jendela, yah..... tepat di jendela kamar rauni... Dian perlahan-lahan membuka horden jendela itu dan berkata "kak Dian merindukan kakak, adakah suatu waktu Dian bisa menjadi mandiri tanpa kehadiran kakak, adakah suatu ketika aku bisa kembali tersenyum "Sepoi angin malam itu sontak membuat Dian merasa kedinginan dan langsung kembali menutup jendela tersebut, saat itu juga Dian melihat sosok rauni yang berdiri di dekat pintu kamarnya, terlihat cantik sekali wajah rauni jauh tak seperti ketika dia menghembuskan nafasnya... "dek... kakak bahagia dengan tempat kakak yang sekarang, tapi kakak tak ingin bahagia sendiri, kakak juga ingin melihat adik kakak itu juga bisa bahagia meski tanpa kehadiran kakak, kakak yakin suatu ketika Dian akan bertemu dengan orang yang benar-benar Dian harapkan yang bisa menjaga kamu. kamu harus selalu kuat Dian. takdir kakak hanya sampai disini kakak harus melepaskanmu bersama orang lain. bagaimanapun banyaknya suatu ujian yang Tuhan berikan kpada kita, kamu harus yakin bahwa Tuhan tdak akan menguji kita kalau kita tdak kuat" "kak.... aku akan ikhlas dengan ujian ini kak, aku juga kan mencoba untuk selalu tegar kak, tapi sampai kapan kak, aku masih ingin brsama kakak. aku sayang kakak," kata Dian menjawab. "kakak hanya minta kamu untuk selalu tersenyum apapun masalahmu dan kamu harus kuat, maaf sayang, kakak harus pergi " "kak rauni harus disini kakak gak boleh pergi." sembari membalikkan badannya mencari Rauni yang ia lihat tadi namun tak satupun orang yang ia lihat disekat pintu itu. "kak Rauni......... kak..... kak rauni...... " Dian berteriak memanggil sosok Rauni sehingga Fauzi dan bang Ilham kaget mendengarnya. mereka berdua berlari menemui Dian, dan jelaslah apa yang ia lihat kini Dian duduk sandar dipunggung tempat tidur memeluk kedua lututya sambil menangis. "kak Rauni."Fauzi yang lebih dulu melangkah mendekati Dian dan berkata "apa yang terjadi Dian, kamu kenapa"? ""zi..... aku tadi lihat kak Rauni didekat pintu  tapi setelah aku balik badan dia sudah tidak ada" jawab Dian," itu mungkin hanya halusinasi kamu saja, kamu terlalu meratapi kepergian kakakmu  hingga kamu menjadi seperti ini "ucap bang Ilham, "iya Dian sekarang udah tengah malam kamu lebih baik tidur saja "ucap Fauzi. "iya nak, kamu nanti sakit, sekarang kamu tidur sama ibu"  ibu Miranda seolah mengagetkan mereka yang datang secara  tiba-tiba. ibu miranda mendekati Dian dan membantu  Dian untuk bangkit dari tempat duduknya lalu membawanya kekamar Dian.


Sebenarnya Dian tidak ingin tidur dikamarnya dia hanya ingin tidur di kamar Rauni namun karena keadaan saat itu juga ibu Miranda meminta Dian agar mau tidur bersamanya, sehingga mereka berdua tidur di dalam kamar Dian, sedangkan Fauzi dan bang Ilham memilih untuk tidur disofa sembari menjaga Dian dan bu Miranda.
              Tepat jam 11 malam, suasana begitu sangatlah terasa hening, yang terdengar hanyalah kicauan suara pada tengahnya malam. ibu Miranda yang saat itu sudah ingin memejamkan matanya mendengar suara isakan tangis Dian. Dian mencoba menahan tangisnya namun juga tetap saja tidak bisa. lalu, ibu Miranda memeluk tubuh Dian dari belakang, "nak,,,,, ibu sangat sayang pada kakakmu, ibu sayang sama kamu, ibu ingin menjaga kamu sekuat dan sebisa ibu dan juga abangmu, ibu ingin kamu tinggal bersama ibu dan Ilham yah? ucap ibu Miranda dengan sangat lembut. Dian mendengar permintaan tersebut, Dian kembali meneteskan air matanya, baginya kalimat itu sangatlah menyentuh untuknya karena ternyata masih banyak orang-orang yang menyayanginya. Dian lalu membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan ibu Miranda. begitu jelas dan tajam tatapan Dian untuk ibu Miranda, Dian melihat dalam mata ibu Miranda terasan betapa disayanginya Dian namun bagi Dian itu terlalu cepat untuknya. "maaf bu.... bukannya Dian menolak permintaan ibu, tapi Dian sudah merasa dewasa bu, Dian ingin mencoba hidup mandiri, Dian tahu ibu sayang sama Dian seperti ibu menyayangi kak rauni, tapi ketika Dian tak bisa tinggal bersama kalian, kalian bisa menjenguk Dian, Dian janji ibu setelah ini Dian tidak akan menagis lagi, ini janji Dian buat kak Rauni dan ibu, yang harus aku lakukan sakarng adalah Dian tdak boleh melupakan kakak untuk mengirimkannya doa" itulah jawaban Dian dari permintaan ibu Miranda. terasa sangat bijaksana bagi ibu miranda."subhanallah Dian,,,,, ibu bangga nak sama kamu, kamu sudah dewasa ternyata.... Dian,,, ibu menghargai keputusan kamu tapi jika suatu hari kamu ingin datang kerumah ibu,,, pintu rumah ibu terbuka lebar untukmu nak. Sekarang sudah larut malam lebih baik kamu tidur saja...

  pagi nan indah bersama damainya kehidupan seperti dihari-hari sebelumnya, cahaya kehangatan mentari kembali menjadi balutan semangat untuk hari yang akan terjalani selanjutnya.

engkau sebagai pelita dalam hidupku
ku ingin hari ini, hidupku berada dalam damai-Mu
hingga diujung penantianku
jika boleh.....
tolong bawa aku pergi dari keheningan malam itu
“aku ingin lepas”
Bersambung.....................


Selasa, 18 November 2014

#3




EKA MARLINA





Setelah indahnya malam berhias kerlap bintang berlalu, kantuk mengusik kesenangan jiwa dalam bisikan merdu penghuni gelap, kesunyian dalam tepian waktu, irama cerita nanlalu tak kunjung bermuara. Kini sesaat dan secara mengejutkan gelap menyingsing, langit menghias diri. Terbit  fajar dengan selimut kehangatan serta keindahan cahayanya terlukis indah dicakrawala. Ohhh.... Rinduku, izinkanku untuk bercerita seperti waktu bercerita tentang dirinya.
                  Dian, Setelah malam itu, dian lebih membuka diri kepada seseorang meskipun bukan sebagai kekasihnya. semangat yang telah lama hilang itu kini telah kembali menampakkan cahayanya. Begitupun dengan kakaknya. Rauni tampak terlihat bahagia melihat adiknya yang semula senyum adalah hal  yang asing kini telah setiap  saat dapat ia jumpai kembali.
  Kedatangan Sahabat kecil Dian yang tanpa tanda menciptakan sebuah semangat baru untuknya. Harapan kini iya sandarkan pada cinta dan kasih yang muncul secara tiba-tiba itu. Setelah Satu tahun berlalu. bisu dalam kata, penantian tanpa nama, menunggu waktu tak bertepi dan malam hanya menyisahkan bayang-bayang, cerita  terindah dalam hidupnya kini hanya  berbekas nama, Rian.
Namun Kini sebuah episode baru dalam hidup Dian akan dimulai kembali, sesaat setelah malam itu sahabat yang telah lama tak pernah dijumpainya secara tiba-tiba muncul membawa harapan baru untuknya.
  Fauzi dengan karakter yang tidak jauh berbeda dengan Rian. menjadi salah satu alasan Dian untuk berani membuka kembali lembaran baru dengan orang yang pernah dekat dengannya sewaktu masih kecil dulu.
  Matahari sudah sempurna tenggelam di ufuk barat. Cahaya kemerahan mulai menyelimuti awan yang berarak pelan ditiup angin. Lampu jalan mulai menghias diri menyambut datangnya malam. Adzan magrib terdengar bersahut-sahutan di seantara desa. Lantunan kalimat agung mengalun menyusup kedalam hati orang-orang yang mendambakan kasih sayang Tuhan menuju kebahagian yang di janjikannya. Kebahagiaan yang berpangkal dari pengabdian yang tulus pada sang pencipta.
  Hari-hari yang dilalui Dian bersama Fauzi Nampak terlihat bahagia. Rauni kakak Dian terlihat ikut bahagia atas kebahagiaan adiknya.  Sesaat sebelum waktu berlalu, pada suatu sore ditepian sungai bisikan hati yang tak sengaja terucap, Dian berkata “ sekarang, dirumah yang sederhana hanya tinggal aku bersama kakak Rauni. Tapi meskipun sederhana, namun yang namanya kebahagiaan ternyata masih bisa aku rasakan layaknya anak perempuan seusiaku. Ayah dan ibu sudah terlalu lama pergi meninggalkanku , namun jiwanya masih tetap saja aku rasakan dan itu lebih menguatkanku untuk tetap bangkit kembali setelah kejadian itu. Sekarang aku optimis, aku bersyukur masih memiliki seorang kakak yang yang sangat aku cintai begitupun sebaliknya. Dia yang mengajarkan aku tentang arti dari sebuah penantian, kesetiaan, dan pengorbanan. Hingga kini aku kembali bersama fauzi.
  Berbeda dengan Rauni akhir-akhir ini Rauni tampak sedang menghadapi masalah namun dia tak pernah bercerita sedikitpun pada adiknya.namun karena sikap dan perilaku Rauni yang semakin hari menjadi tidak biasa, akhirnya  Dian pun curiga dan mencari tau apa yang membuat kakaknya bertingkah tidak seperti biasanya.  mengetahui apa yang dialami oleh kakaknya, sedikit kekecewaan yang Dian tampakkan didepan Rauni kakanya, sebab kakanya telah sengaja menutup-nutupi masalah yang dihadapinya. Namun karena adanya saran dari Fausi, agar Dian segera mencari tau masalah yang dihadapi Raun kakaknya. Akhirnya Dian mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


Rauni saat itu tertidur diruang makan. “ kak…. Bangun kak Udah sore nih !!. Rauni kaget dan terbangun dengan sentuhan tangan dari adiknya. Perlahan Rauni membuka matanya sambil menangis. “lhoo… kakak menagis yah? Tanya dian. “tidak, mungkin tidur kakak lelap sekali hingga kamu pikir kakak nangis”. Rauni menjawab. Dian kembali bertanya “kak…. Sebenarnya apa yang terjadi , kenapa akhir-akhir ini kakak terlihat lain dari yang biasanya”? “lho… emangnya kakak kelihatan beda kenapa, kakak tidak apa-apa Dian, perasaan kamu aja mungkin. “ oh ya kakak mau masuk aja the… pertanyaan kamu udah ngaur. Jawab Rauni. Rauni sudah merasakan ada yang lain dari sifat Dian Dan harus menghindarinya. Rauni berdiri dari kursi akan tetapi Dian menahan dan memegang tangannya. Rauni sudah tidak biasa lari lagi dari pertanyaan itu dan mau bagaimanapun keadaanya Dian memang harus tahu apa yang terjadi pada kakaknya. Air mata Rauni sudah meleleh dan langsung membalikkan badan sambil memeluk adiknya. Sebenarnya Rauni sangat berat hati untuk mengatakan semuanya pada Dian. Namun karena Dian memaksa, akhirnya Rauni pun menceritakan semua kepada adiknya.
  rintik kecil air hujan dalam remang cahaya mentari sesaat sebelum terbenam, menghias nada-nada sendu dalam cerita hidup antara Dian dan Rauni pada saat itu.
  Dalam benak Dian, akankah dia akan kehilangan orang yang disayanginya lalu merelakannya bersama orang lain. Namun disatu sisi Dian pun harus melihat kakaknya menikah dan berbahagia bersama kekasihnya, bang ilham.
lamaran Ilham kepada Rauni sebenarnya bukanlah hal yang  mengejutkan bagi Rauni sebab ia telah lama menegetahui hal tersebut, namun yang Rauni takutkan adalah Dian tidak mampu menerima orang lain dalam kehidupan kakanya dan kehidupannya. Akhirnya Raunipun larut dalam kebingungan untuk mengambil keputusan, apa lagi semenjak perbincangan dengan adiknya disore itu. Dian tidak memberikan respon yang baik kepadanya. Beberapa hari berlalu ,akhirnya Rauni sakit akibat dari beratnya masalah  yang membelenggu pikirannya.
Dian seringkali merasakan sebuah penyesalan,  kenapa dia tidak memberidukungan pada Rauni untuk menikah. Tapi, apalah gunanya sebuah penyesalan.
Malam semakin gelap, cahaya lampu kian samar menerangi kamar
Rauni. Dian yang sementara menemani kakaknya yang terbaring sakit sedikit terkejut dari suara ketukan pintu dari luar. “Assalamu alaikum, Dian buka pintunya” !! Dian dari dalam kamar beranjak keluar membuka pintu. “ Wa Alaikum salam, Fauzi.” Ayo,,, silahkan masuk! Iya terimah kasih. setelah Fauzi selesai melihat keadaan Rauni, iapun memanggil Dian untuk meninggalkan kamar dan menuju ruang tamu. Diruang tamu Fauzi meminta pada dian untuk memberi kabar bang Ilham tentang keadaan Rauni.
Dian mengangguk-angguk dan
berpikir mungkin juga ada baiknya seperti itu. Dengan mata yang kian sayu, mereka saling berpandangan. Lalu masing-masing menganggukan kepala.
   akhirnya setelah perbincangan itu dan malampun semakin larut Fauzi pamit dan tidak bisa menemani Dian menjaga Rauni. Karena fauzi ada keperluan lain. Dan saat itu juga, dian mendekati telepon rumahnya dan segera menelpon bang ilham.
“Assalamu alaikum, iya halo? Suara dari balik telepon. Wa alaikum salam. Bang ilham ya? Saya Dian adiknya kak Rauni. “iya Dian, kenapa? Tumben malam-malam begini nelpon abang “iya bang, Dian lagi pengen cerita tentang kak Rauni, siapa tahu dengan bang ilham kak Rauni bias lebih baikan begitu bang. Suara dari balik telepon sudah sunyi. Dian kembali memanggil, hallo…. Bang ilham… hallo… hallo…. Lama tak terdengar suara bang Ilham akhirnya bang ilham menyahut,

“iya Dian, abang disini” lho… kok suara bang ilham agak lain sih?
“tidak
Dian, abang Cuma kaget aja tahu bahwa kak Rauni ternyata sedang sakit. Yah sudah dulu yah Dian… abang udah mau istirahat nih, abang usahakan besok datang.
“iya bang… Assalamu alaikum
                  Dian pun sedih karena tahu tentang apa yang dirasakan oleh bang ilham saat ini. Namun dian berusaha menahan itu semua, dian menuju kamar rauni dan tidur didekat rauni.
Udara pagi yang biasanya menjadi inspirasi dalam mengawali setiap langkah Dian, kini seakan  tak bermakna lagi. Meskipun begitu, Dian tetap tak pernah menampakkan raut wajah yang buram dihadapan kakak.
  Wajah sang mentari yang mulai tampak garang membuyarkan kedinginan menjadi kehangatan, dipagi ini sunyi senyap tanpa tegur sapa dari sang kakak yang terbaring sakit. Terasa asing, namun inilah kenyataan yang mesti harus dijalani. Sesaat kemudian.
  Terdengar dari luar suara mobil berhenti, Dian membuka jendela dan ternyata bang ilham sudah tiba dirumahnya. Saat itu juga Dian menghubungi fauzi bahwa bang ilham sudah ada dirumah bersama ibunya. Dian berjalan keluar sambil membuka pintu, nampaklah sebuah rumah kecil yang sederhana. namun dimata ibu bang ilham sebenarnya itu tidak menjadi permasalahan bagi dirinya untuk menerima Rauni sebagai calon menantunya. tapi, saat ini Rauni sedang dalam keadaan sakit. Bang ilham tampak pucat dan berjalan lebih cepat dari biasanya untuk menuju kamar Rauni. Sambil berjalan ibu bang ilham menyempatkan bertanya pada Dian tentang sebenarnya apa yang terjadi pada Rauni? Dian berhati-hati menjelaskannnya karena takut salah. Mereka bertiga akhirnya tiba dikamar.
  Selang beberapa menit  dikamar itu, cahaya matahari yang sejak tadi menampakkan kegagahannya. hembusan udara mulai rendah, memanggil angin kering menerjang masuk kekamar. Debu kembali beterbangan, suhu kian tinggi membuat mereka kembali membuat ramalan-ramalan tersendiri tentang keadaan Rauni. Akankah perjuangannya melawan sakit saat ini dapat bertahaan hingga malam mengahalaunya.

            Bersambung………...