EKA MARLINA
Detik waktu telah membuyarkan gelap pada malam, seiring cahaya mentari menembus cakrawala pagi dan dunia kembali bermain dadu.
Sesaat kemudian, Rauni kembali membuka mata yang tampak sayu meskipun begitu cahaya seakan terpancar dalam raut wajahnya yang cantik. Matanya menatap tajam seolah tersirat makna yang dalam kemudian dia berucap sendu.
“Indahku memandang pesonamu,
Darimulah aku menemukan hidup yang bermakna,
Darimulah aku bertemu cinta yang sesungguhnya,
Kaulah takdir dari Tuhan untukku,
Penantianku telah kucukupkan sampai disini,
Selamat tinggal.”
Matanya sedikit menerawang. Tangannya kanannya terggenggam erat pada kedua tangan Ilham dan tangan kirinya digenggam pula oleh adiknya, Dian. Keringatnya mengalir semakin deras. Urat lehernya sedikit menegang. Lalu iapun kembali berucap sendu.
“bang, aku sudah tak tahan lagi.”
“Kau harus bertahan untuk abang, untuk Dian dan untuk semua orang” pinta bang ilham.
Dian saat itu sudah menangis, perasaannya sudah mulai tidak enak.
“aku sudah tak kuat lagi” ucap rauni hampir tak terdengar. Mulutnya seperti ingin mengucapkan sesuatu.
Laa ila….ha illallah….muhammadur…rasuu…lullah”
Genggamannya semakin erat, semakin erat lalu perlahan mulai melemah terlepas, matanya perlahan tertutup rapat, badannya sudah mulai dingin bahkan detak jantunggnya sudah tak ada lagi. Pecah gemuruh hujan diluar sana. Rauni sudah tiada. Semua menangis.
Rauni telah menghembuskan nafas terakhirnya. perih dan terasa sesak hatinya, Dian yang telah sekian lama bersama kakaknya, sekarang hanya melihatnya terbaring kaku. kakaknya yang selama ini dia anggap kuat itu, telah pergi untuk selamanya. sepi kembali berbaur dengan deru angin, yang mengikis segala debu, bumi kian kuning kepucatan Dian terus menatap kakaknya yang sudah tak bernyawa lagi, sembari menatap keluar jendela dan terus menafsirkan berharap ada bingkisan mukjizat dari sang Ilahi yang akan jatuh untuk kesembuhan Rauni. namun apa daya bahwa saat ini, Rauni memang sudah tak bersama mereka lagi. saat itu sontak Dian menangis histeris atas kepergian kakak yang selama ini telah bersamanya. "kak Rauni.....kak rauni bangun.... bangun kak (sambil mengoyang2kan tubuh Rauni yang sudah tak bernyawa lagi) "bu....bu... kak rauni tidak boleh pergi bu,,, Dian tidak mau
sendiri, Dian takut bu sendiri...."Dian seolah olah bertanya pada ibu Miranda" namun respon yang diberikan hanyalah sebuah tangisan yang pecah saat itu juga."bang....bang Ilham jangan diam saja, tolong lakukan sesuatu bang untuk kak Rauni" Dian kembali berdiri sambil terlihat memukul tubuh bang Ilham namun tak punta tenaga sedikitpun. "Dian,,,, abang tdak bisa apa-apa lagi bahkan kita semua harus ikhlas menerima kepergian Rauni, Dian". namun Dian tetap saja menangis dan kembali jatuh lalu memeluk erat tubuh Rauni yang kini hanyalah tinggal sebuah jazad , namun bagi Dian itu tak menjadi masalah karena dia sangat mencintai kakakknya itu.. fauzi pun hanya bisa melihat keadaan saat itu dengan penuh kebingungan. fauzi bingung akan melakukan apa saat itu selain melihat Dian sangat terpukul berat.
"nak,, sesuatu itu pada akhirnya kembali pada asalnya, Rauni itu milik Tuhan, dia hanya titipan Tuhan kita nak, tolonglah nak.... sabar dan ikhlaskanlah kakakmu "!
ucapan yang terlontar dari mulut ibu Miranda sangatlah terasa bijaksana bagi mereka. bang Ilham pun terlihat sabar dan berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Rauni seorang yang telah dicintainya selama ini.
"nak Fauzi tolong bawa Dian keluar yah, tenangkan dia ! " ucap ibu Miranda. "iya bu ". Jawab Fauzi Dian dibawa keluar dari kamar dan Fauzi berusaha menenangkan Dian. Fauzi tak mampu melihat orang yang kini dicintainya menangis. "yank ,(sebutan nama Dian dari Fauzi) sudahlah !!! ikhlaskan atas kepergian kakakmu biarkan dia tenang dialam sana, kamu masih punya aku, bang ilham, juga ibu miranda kita semua kan slalu jaga kamu seperti aku menjaga hati ini untukmu" begitulah ucapan fauzi untuk membuat Dian tenang,meski demikian Dian tetap menangis namun sudah agak biasa. saat itu juga warga pada berdatangan untuk melayat sehingga jazad rauni telah siap untuk dimandikan dan dikafani.
jazad, yah.... apalagi yang lebih berarti dari pada jazad. toh tidak seorangpun yang akan lepas dari sebutan jazad , cepat atau lambat pasti semuanya kan menjadi jazad, terdengar suara si kodok seolah mencobaa meyakinkan orang-orang tersebut yang sedang menatap dalam jazad rauni. sikodok tetap tidak bergeming berlindung dibalik pelepah pisang yang dedaunnya juga sudah mulai mengering
Dian dibawa kluar dari kamar dan fauzi berusaha menenangkan Dian. fauzi tak mampu melihat orang yang kini dicintainya mwnangis. "yan,(panggilan sayang fauzi untuk Dian),, sudahlah !!! ikhlaskan atas kepergian kakakmu biarkan dia tenang dialam sana, kamu masih punya aku, aku kan slalu jaga kamu seperti aku menjaga hati ini untukmu" begitulah ucapan fauzi untuk membuat Dian tenang, meski demikian Dian tetap menangis namun sudah agak biasa. saat itu juga warga berdatangan untuk melayat sehingga jazad rauni telah siap untuk dimandikan dan dikafani. jazad, yah.... apalagi yang lebih berarti dari pada jazad. toh tidak seorangpun yang akan lepas dari sebutan jazad, cepat atau lambat pasti semuanya kan menjadi jazad, terdengar suara si kodok seolah mencobaa meyakinkan orang-orang tersebut yang sedang menatap dalam jazad rauni.
Sore itu rauni kini telah menyatu dengan tanah, pecah gemuru dan rintik hujan telah melenyapkan jingga pada sudut katulistiwa dipenghujung waktu, awan gelap dan kini sunyi hanya kembali melukis jiwa Dian yang semakin pilu.
malam pun tiba hujan pun tak kunjung reda, Dian saat ini sangatlah terpukul berat untung saja bu miranda, bang ilham dan juga fauzi masih setia menemani Dian. Dian kembali mengingat memori yang pernah dia jalani bersama kakakknya itu, Dian kembali menangis karena mulai saat ini terbayang dia harus hidup mandiri tanpa kehadiran sang kakak disampingnya. dia bangkit dan berjalan mendekat jendela, yah..... tepat di jendela kamar rauni... Dian perlahan-lahan membuka horden jendela itu dan berkata "kak Dian merindukan kakak, adakah suatu waktu Dian bisa menjadi mandiri tanpa kehadiran kakak, adakah suatu ketika aku bisa kembali tersenyum "Sepoi angin malam itu sontak membuat Dian merasa kedinginan dan langsung kembali menutup jendela tersebut, saat itu juga Dian melihat sosok rauni yang berdiri di dekat pintu kamarnya, terlihat cantik sekali wajah rauni jauh tak seperti ketika dia menghembuskan nafasnya... "dek... kakak bahagia dengan tempat kakak yang sekarang, tapi kakak tak ingin bahagia sendiri, kakak juga ingin melihat adik kakak itu juga bisa bahagia meski tanpa kehadiran kakak, kakak yakin suatu ketika Dian akan bertemu dengan orang yang benar-benar Dian harapkan yang bisa menjaga kamu. kamu harus selalu kuat Dian. takdir kakak hanya sampai disini kakak harus melepaskanmu bersama orang lain. bagaimanapun banyaknya suatu ujian yang Tuhan berikan kpada kita, kamu harus yakin bahwa Tuhan tdak akan menguji kita kalau kita tdak kuat" "kak.... aku akan ikhlas dengan ujian ini kak, aku juga kan mencoba untuk selalu tegar kak, tapi sampai kapan kak, aku masih ingin brsama kakak. aku sayang kakak," kata Dian menjawab. "kakak hanya minta kamu untuk selalu tersenyum apapun masalahmu dan kamu harus kuat, maaf sayang, kakak harus pergi " "kak rauni harus disini kakak gak boleh pergi." sembari membalikkan badannya mencari Rauni yang ia lihat tadi namun tak satupun orang yang ia lihat disekat pintu itu. "kak Rauni......... kak..... kak rauni...... " Dian berteriak memanggil sosok Rauni sehingga Fauzi dan bang Ilham kaget mendengarnya. mereka berdua berlari menemui Dian, dan jelaslah apa yang ia lihat kini Dian duduk sandar dipunggung tempat tidur memeluk kedua lututya sambil menangis. "kak Rauni."Fauzi yang lebih dulu melangkah mendekati Dian dan berkata "apa yang terjadi Dian, kamu kenapa"? ""zi..... aku tadi lihat kak Rauni didekat pintu tapi setelah aku balik badan dia sudah tidak ada" jawab Dian," itu mungkin hanya halusinasi kamu saja, kamu terlalu meratapi kepergian kakakmu hingga kamu menjadi seperti ini "ucap bang Ilham, "iya Dian sekarang udah tengah malam kamu lebih baik tidur saja "ucap Fauzi. "iya nak, kamu nanti sakit, sekarang kamu tidur sama ibu" ibu Miranda seolah mengagetkan mereka yang datang secara tiba-tiba. ibu miranda mendekati Dian dan membantu Dian untuk bangkit dari tempat duduknya lalu membawanya kekamar Dian.
Sebenarnya Dian tidak ingin tidur dikamarnya dia hanya ingin tidur di kamar Rauni namun karena keadaan saat itu juga ibu Miranda meminta Dian agar mau tidur bersamanya, sehingga mereka berdua tidur di dalam kamar Dian, sedangkan Fauzi dan bang Ilham memilih untuk tidur disofa sembari menjaga Dian dan bu Miranda.
Tepat jam 11 malam, suasana begitu sangatlah terasa hening, yang terdengar hanyalah kicauan suara pada tengahnya malam. ibu Miranda yang saat itu sudah ingin memejamkan matanya mendengar suara isakan tangis Dian. Dian mencoba menahan tangisnya namun juga tetap saja tidak bisa. lalu, ibu Miranda memeluk tubuh Dian dari belakang, "nak,,,,, ibu sangat sayang pada kakakmu, ibu sayang sama kamu, ibu ingin menjaga kamu sekuat dan sebisa ibu dan juga abangmu, ibu ingin kamu tinggal bersama ibu dan Ilham yah? ucap ibu Miranda dengan sangat lembut. Dian mendengar permintaan tersebut, Dian kembali meneteskan air matanya, baginya kalimat itu sangatlah menyentuh untuknya karena ternyata masih banyak orang-orang yang menyayanginya. Dian lalu membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan ibu Miranda. begitu jelas dan tajam tatapan Dian untuk ibu Miranda, Dian melihat dalam mata ibu Miranda terasan betapa disayanginya Dian namun bagi Dian itu terlalu cepat untuknya. "maaf bu.... bukannya Dian menolak permintaan ibu, tapi Dian sudah merasa dewasa bu, Dian ingin mencoba hidup mandiri, Dian tahu ibu sayang sama Dian seperti ibu menyayangi kak rauni, tapi ketika Dian tak bisa tinggal bersama kalian, kalian bisa menjenguk Dian, Dian janji ibu setelah ini Dian tidak akan menagis lagi, ini janji Dian buat kak Rauni dan ibu, yang harus aku lakukan sakarng adalah Dian tdak boleh melupakan kakak untuk mengirimkannya doa" itulah jawaban Dian dari permintaan ibu Miranda. terasa sangat bijaksana bagi ibu miranda."subhanallah Dian,,,,, ibu bangga nak sama kamu, kamu sudah dewasa ternyata.... Dian,,, ibu menghargai keputusan kamu tapi jika suatu hari kamu ingin datang kerumah ibu,,, pintu rumah ibu terbuka lebar untukmu nak. Sekarang sudah larut malam lebih baik kamu tidur saja...
pagi nan indah bersama damainya kehidupan seperti dihari-hari sebelumnya, cahaya kehangatan mentari kembali menjadi balutan semangat untuk hari yang akan terjalani selanjutnya.
engkau sebagai pelita dalam hidupku
ku ingin hari ini, hidupku berada dalam damai-Mu
hingga diujung penantianku
jika boleh.....
tolong bawa aku pergi dari keheningan malam itu
“aku ingin lepas”
Bersambung.....................
