Selasa, 04 Februari 2014

#1



        EKA MARLINA
                                             


Matahari telah surut kebarat,
cahaya yang merah keemasan telah tertoreh dikaki langit seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada siang. Sunyi sore hari mulai menyergap, hanya burung bangao yang terbang lemah dan berhinggapan direrumpunan pohon bambu menghiasi sunyi dengan kepakan sayapnya yang gemulai.

Dia sang jelita, bernama  Dian.  termenungan dengan mata yang tak berkedip diatas batu besar dipinggir sungai, menatap arus air sungai yang begitu tenang, melantunkan syair-syair kesunyian.

Sore nan kelabu, Angin bertiup lembu menyibak daun bambu, membuatnya bergoyang seirama angin membawa  kabar yang entah bermakna apa.
 sungai dalam syahdu arusnya, seakan memadu kasih dengan daun bambu, mencipta syair-syair dalam irama yang lain. Hanya kepada syair-syair dari alauna itu, Dian menyandarkan segala lukanya, segala luka yang telah lama terpendam, menghilangkan keriangan hatinya, semangatnya, sebab masa lalu yang kejam telah menoreh  kisah yang tak dapat diterimahnya.


Dian,  seorang gadis remaja desa berusia 18 tahun, terkenal dengan paras wajahnya yang cantik jelita,  yang akan membuat setiap pemuda terpengarah dengan pesonanya. Namun hanya kepada kepada satu nama ia menyandarkan harapan cintanya, cinta yang ia maknai sebagai satu titik kebahagiaan yang akan membawanya dalm irama kasih yang tak terhingga,  gadis yang masih lugu dan polos dengan usianya yang masih sangat muda namun secepat itu merasakan sebuah perasaan cinta kasih kepada seseorang pemuda  yang telah menjadi sahabatnya sejak perjumpaannya dimasa ia masih bersekolah disalah satu sekolah lanjutan atas didesanya, pemudah itu bernama Rian, Ia sebenarnya terlahir dikota namun karena kesibukan
orang tuanya ia kemudian dititipkan kepada nenknya yg tinggal didesa terpencil dan kmudian disekolahkn  disana. Dan disanaklah awal  perjumpaan itu sebuah perjumpaan yang telah mengubah cerita hidup Dian menjadi penuh dengan gairah. Diwaktu yang berbeda, peraduan lain untuk mengenang sebuah kisah yang terlanjur terderah dalam catatan kenangan Dian, yang entah harus dimaknai apa olehnya. kadang lamunan itu hanya dapat tergambar jelas melalui ingatannya, ditempat yang tak asing selain dipinggir sungai adalah berada didekat jendelanya. Sebab disana ia dapat leluasa melihat dan menggambar  Masa lalunya yang entah itu masa lalu yang bahagia atau derita  yang penuh luka.  jingga dikaki langit dengan hamparan  pohon-pohon pencakar langit menghias berjejer diantara hamparan sawah dengan padinya yang mulai menguning, sedang bayang-bayang gelap malam menghampiri  seakan hendak menghilangkan warna-warna indah saat senja menjanjikan keabadiannya. Jelas tergambar bagaimana malam melukis gelap menghapus cahaya siang. Kisah yang tak berbeda yang dihapi Dian, dalam status percintaannya yang terlalu cepat berakhir tanpa penjelasan.

Rian, nama seorang kekasih  yang telah hinggap sejenak dalam hidupnya, meninggalkan Dian sendiri dengan cintanya, Sejak kejadian menimpa kekasihnya. Dian, hanya punya 2 tempat yang dia jadikan sebbagian temanya dalam hidupnya sebagai pengganti kekasihnya Rian, yakni dipinggir sungai dan berada didekat jendela kamarnya.

“Dian......... Dian..........!!!!!!!!!!”
Suara yang terdengar lembut memanggilnya dibalik pintu. Dian bangkit lalu membuka pintu kamarnya.,
“seharian kamu belum makan, Ayo makan dulu, saya tunggu diruang makan yah”.
“iya kak” jawab Dian dengan suara yang lembut pula.
Rauni adalah kakak Dian, ia adalah seorang guru sekolah Dasar didesanya umurnya 8 tahun diatas Dian, mereka hanya tinggal berdua saja dirumah mereka yang sederhana, sejak sebuah peristiwa kebakaran Rumah yang terjadi 5 Tahun yang lalu telah merenggut nyawa kedua orang tua mereka. 




Bersambung..................